Cari Blog Ini

Rabu, 05 Desember 2012

New Bobath Concept



New Bobath Therapi Untuk Stroke

Sebelum lebih jelas untuk metode bobath yang baru belum lama ini admin mengikuti  kuliah tentang new bobath concept dengan pembicara oleh saudara Agus Wiyono, AMF seorang fisioterapi yang berkonsentrasi di  metode bobath untuk stroke. Beliau bekerja di Sasana Husada Jakarta untuk rehabilitasi stroke center dan telah mendalami terapi latihan untuk stroke dengan metode New Bobath Concept sehingga sedikit mendapat ringkasan mengenai konsep metode bobath yang baru.

Konsep Bobath adalah pendekatan pemecahan masalah untuk penilaian dan pengobatan individu dengan gangguan fungsi, gerakan dan kontrol postural karena lesi dari sistem saraf pusat (IBITA 1996, Panturin 2001, Brock et al 2002, Raine 2006).

Pendekatan untuk rehabilitasi orang dewasa dengan sistem pusat saraf patologi berasal dari karya Berta dan Karel Bobath dan telah berkembang selama lebih dari 50 tahun. Alasan untuk digunakan saat ini didasarkan pada pengetahuan masa kini seperti  kontrol motor, pembelajaran motorik, saraf dan otot plastisitas, dan biomekanik. Hal ini juga didasarkan pada pengalaman dokter ahli dan mengambil kebutuhan klien dan harapan ke penyembuhan(Sackett 2000).

Awalnya konsep dari bobath hanya berdasarkan asumsi saja. Proses pengembangan pernyataan yang akan mengklarifikasi asumsi-asumsi teoritis dan praktik klinis diprakarsai oleh Rapat Umum Tahunan ke-12 dari IBITA pada tahun 1996.


Konsep Awal (Original Concept)
 
Metode Bobath pada awalnya memiliki konsep perlakuan yang didasarkan atas inhibisi aktivitas abnormal refleks (Inhibition of abnormal reflex activity) dan pembelajaran kembali gerak normal (The relearning of normal movement), melalui penanganan manual dan fasilitasi.

Konsep Bobath Terkini

Dengan perkembangan ilmu dan teknologi, maka konsep Bobath juga mengalami perkembangan dimana menggunakan pendekatan problem solving dengan cara pemeriksaan dan tindakan secara individual yang diarahkan pada tonus, gerak dan fungsi akibat lesi pada sistem saraf pusat.

Tujuan intervensi dengan metode Bobath adalah optomalisasi fungsi dengan peningkatan kontrol postural dan gerakan selektif melalui fasilitasi, sebagaimana yang dinyatakan oleh IBITA tahun1995.

“The goal of treatment is to optimize function by improving postural control and selective movement through facilitation.” (IBITA 1995

Tujuan yang akan dicapai dengan konsep Bobat:
-Melakukan identifikasi pada area-area spesifik otot-otot antigravitasi yang mengalami penurunan tonus.
-Meningkatkan kemampuan input proprioceptive.
-Melakukan identifkasi tentang gangguan fungsi setiap individu dan mampu melakukan aktivitas fungsi yang efisien “Normal”.
 

Fasilitasi specific motor activity .
Minimalisasi gerakan kompensasi sebagai reaksi dari gangguan gerak.
Mengidentifikasi kapan dan bagaimana gerakan menjadi lebih efektif.
 

Analisa tentang gerak normal (normal movement) menjadi dasar utama penerapan aplikasi metode ini. Dengan pemahaman gerak normal, maka setiap fisioterapis akan mampu melakukan identifikasi problematik gerak kepada setiap pasien/klien atas penyimpangan gerak akibat gangguan system saraf pusat.

Akibat adanya gangguan sistem saraf pusat (SSP) akan mengakibatkan abnormal tonus postural, dari abnormal tonus postural tersebut melahirkan gangguan atau abnormalitas pada umpan balik sensoris yang akhirnya memunculkan kompensasi gerak. Pada aktifitas gerak, maka tonus otot postural akan sangat menentukan efektifitas dan efesiensi gerak yang akan dihasilkan.

Kamis, 22 November 2012

Apa itu Fisioterapi..?



 Physiotherapy (Fisioterapi) merupakan salah satu bidang pelayanan kesehatan yang dibutuhkan masyarakat. Physiotherapy berasal dari kata : “Physic” (fisik) dan “Therapy” (terapi) yang berarti pengobatan yang dilakukan pada kelainan – kelainan fisik dengan menggunakan sumber – sumber fisis.
Pelayanan fisioterapi sebenarnya sudah dimulai sejak 2000 tahun sebelum masehi. Fisioterapi dilakukan dengan cara mandi uap, pemijatan dan pemakaian mineral. Munculnya tokoh ilmuwan kedokteran modern yaitu Hipocrates dan memperkenalkan pengobatan fisioterapi dengan lebih lengkap yaitu dengan menggunakan udara segar, hidroterapi, gymanastik dan pemijatan modern.

     Mencermati perkembangan tersebut, sebagai seorang fisioterapi kita berusaha memberikan pelayanan Fisioterapi dengan kualitas global, yang berorientasi pada problematik pasien dan terjangkau oleh masyarakat serta menggunakan konsep fisioterapi terkini yang didukung modalitas fisioterapi yang modern dan tenaga fisioterapis yang professional

Macam-macam alat atau cara yang digunakan oleh Fisioterapi.
  • Short/Micro Wave Diathermy
Terapi dengan menggunakan gelombang elektromagnetik.
  • Ultra Sound
Terapi dengan menggunakan gelombang ultra sonic.
  • Interferenstial Therapy
Terapi dengan menggunakan rangsang elektirs frekuensi menengah.
  • Faradisasi/Galvanicasi
Terapi dengan meggunakan rangsang elektris frekuensi rendah.
  • Tens
Terapi dengan menggunakan rangsang elektris frekuensi rendah.
  • Infra Red
Terapi dengan menggunakan sinar infra merah.
  • Parafin Bath
Terapi dengan menggunakan lilin cair.
  • Cold Therapy/Polar Care 500
Terapi dengan menggunakan  media es.
  • Cervical / Lumbal Traction
Terapi dengan menggunakan tarikan pada leher / pinggang.
  • Nebulizer / Inhalasi Therapy
Terapi dengan penguapan obat  + Chest Fisioterapi.
  • Manual Therapy
Terapi dengan cara menggerakkan otot dan persendian.
  • Exercise Therapy
Terapi dengan menggunakan metode latihan khusus.
  • Manual Lymph Drainage Vodder
Terapi massage pada pembuluh limfe dan kelenjar Limfe.
  • Test dan Evaluasi
MMT, ROM, Functional Examination, dll

Penyakit atau gangguan yang akan ditangani oleh seorang Fisioterapi

  • Kondisi Neurologi.
Gangguan gerak dan fungsi akibat :
CVA, Meningoenchepalitis , Post Traumatism Operation on Brain., HNP,  Progressive Muscular Athropy, Bell’s Palsy, Erb’s Paralyse, Drop Hand, Drop Foot, Migrain,  Enchepalitis letárgica, dll
  • Kondisi Orthopaedi
Gangguan gerak dan fungís akibat :
Torticolis, Conginetal Hip Dislocation, Talipes Equino Varus, Strain, Sprain, Subluxation, Dislocation, Fracture, dll Kondisi Kerusakan dan Kelainan Osteoarthritis, Rheumatoid Arthritis, Tenovaginitis, Bursitis, Myositis Ossifican, Arthrose Deformans,, Ligamentum Calcification, Spur Formation, Osteoporose. Scoliosis, Kyposis, Lordosis dll.
  • Kondisi Ginekologi dan Obstetri
Peradangan , Kelainan Menstruasi dan Gangguan Kesuburan. Senam Hamil dan Senam Nifas, Pijat Bayi
  • Kondisi Kardio Respirasi
Rehabilitasi Fisik pada Gangguan Jantung & Respirasi
a. Mitral Desease, Pulmonary Stenosis, Aortic Desease,  Coronary, Tetralogi  Fallot, A.S.D,  V.S.D
b. Gangguan Sistem Respiratori Bronchitis Chronis, Asthma Bronchiale, Pleuritis, Broncheactase, Bronchopneumonia, Emphysema
  • Kondisi Telinga Hidung dan Tenggorokan
Otitis Media, Tinitus, Sinusitis, Pharingitis,   Radang Selaput Lendir Kronis.
Fisioterapi untuk tujuan pencegahan  
a. Fisioterapi preventive pada penderita yang di rawat lama.
b. Fisioterapi  preventive pada pekerja yang terbiasa dengan sikap, posisi, gerak tubuh tertentu. Contoh : Duduk, Berdiri, Mengangkat berat.
  • Kondisi Gigi.
Post extraksi gigi, orthodonsi, gangguan gusi, paradentose.
  • Kondisi Penyakit Dalam
Akibat keluhan organ dalam  : Liver, Usus (penyakit Crohn), Konstipasi, Limfeoedema, Artritis, Chronic Nephritis, Polyarthritis kronis, Coxatrosis, Diabetes,Cervicalgia, Headache  Periarthritis humeroscapularis , Cistitis and Bed Wetting, Hemorroids, Loss of Vitality and Impotente, Colecistitis (Inflammation of The Gall), Chronic Enteritis, Low Blood Pressure, Chilling/menggigil,. Gastritis and Gastric Ulcer, Poor Appetite and Stomach Conculsions (nafsu makan rendah), Menopause, Insomnia
  • Kondisi Penyakit Kulit
Exzema kronis, Acne, Jaringan parut post  operasi.  Wrinkel, Luka bakar dll.


Ternyata masyarakat terutamanya masyarakat Indonesia belum banyak yang mengenal tentang fisioterapi. Sebagai seorang fisioterapi kita berusaha untuk mengenalkan kepada masyarakat tentang fisioterapi dan berusaha untuk mensosialisaikan fisoterapi sebagai salah satu sarana untuk menjaga kesehatan manusia.


Sabtu, 17 November 2012

PKM-Karsa Cipta Fisioterapi





                                                                            Abstrak
Stroke merupakan masalah bagi negara-negara berkembang saat ini. Di seluruh dunia, stroke adalah penyebab utama kematian nomer 2. Stroke juga merupakan penyebab utama gangguan kemampuan fungsional. Akibat dari pasca stroke maka akan terjadi gangguan kemampuan fungsional yang menyebabkan penderita stroke harus mengeluarkan biaya yang besar untuk perawatan rehabilitasi disamping juga kehilangan produktivitasnya. Penanganan rehabilitasi pasca stroke merupakan kebutuhan yang mutlak bagi pasien untuk dapat mengembalikan kemampuan gerak dan fungsinya. Pasien stroke biasanya mengalami penurunan semangat untuk terapi dan berlatih dan sangat tergantung terhadap terapis. Jenis terapi latihan yang sering dilakukan adalah dengan metode konvensional, PNF, Bobath, NDT, MRP dll. Dimana jenis terapi latihan di atas harus memerlukan tenaga ahli dari fisioterapi. Dengan melihat kondisi tersebut perlu dipikirkan cara alternatif untuk membantu pasien stroke memulihkan kemampuan fungsionalnya dengan kemandirian dari diri pasien tersebut. Salah satu caranya adalah dengan memanfaatkan peralatan rumah tangga dan peralatan kerja seperti kunci pintu untuk melatih gerakan pronasi dan supinasi, gerendel pintu untuk melatih genggaman, biji-bijian untuk melatih sensor motorik halus, sendok dan garpu untuk melatih koordinasi dan pisau untuk memotong benda berguna untuk melatih kekuatan otot. Diharapkan dengan peralatan rumah tangga dan kerja yang telah dimodifikasi akan dapat meningkatkan kemampuan dan kemandirian fungsional dari pasien stroke.

Kata kunci: Stroke, Rehabilitasi, Peralatan, Terapi, Latihan.